__________________________________________________________________________________

| Nawawi | Aqeedah | Fiqh | Anti Syirik | Galeri Buku | Galeri MP3 | U-VideOo |
__________________________________________________________________________________

Monday, November 19, 2007

021 - BERIMAN KEPADA PARA RASUL

BERIMAN KEPADA PARA RASUL

I. DEFINISI NABI DAN RASUL

Menurut bahasa, nabi berasal dan kata نبأ وأنبأ yang berarti أخبر (mengabarkan). Jadi nabi adalah yang memberitakan dari Allah dan ia diberi khabar dari sisi-Nya. Atau juga berasal dari kata نبا yang berarti علا وارتفع , (tinggi dan naik). Maka nabi adalah makhluk yang termulia dan tertinggi derajat atau kedudukannya.

Sedangkan menurut istilah, nabi ialah seorang laki-laki yang diberi khabar (wahyu) oleh Allah berupa syari’at yang dahulu (sebelumnya), ia mengajarkan kepada orang-orang di sekitarnya dan umatnya (penganut syariat ini).

Adapun rasul secara bahasa ialah orang yang mengikuti berita-berita orang yang mengutusnya; diambil dan ungkapan جاءت ألإبل رسلا (unta itu datang secara beriringan). Rasul adalah nama bagi risalah atau bagi yang diutus. Sedangkan irsal adalah pengarahan.

Menurut istilah, rasul ialah seorang laki-laki merdeka yang diberi wahyu oleh Allah s.w.t. dengan membawa syariat dan ia diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umatnya, baik orang yang tidak ia kenal maupun yang memusuhinya.

Perbedaan Antara Nabi dan Rasul

a) Kenabian (nubuwah) adalah syarat kerasulan (risalah). Maka tidak boleh menjadi rasul orang yang bukan nabi. Kenabian lebih umum dari kerasulan. Setiap rasul pasti nabi, tetapi tidak setiap nabi adalah rasul.

b) Rasul membawa risalah kepada orang (kaum) yang tidak mengerti tentang agama dan syariat Allah s.w.t. atau kepada kaum yang telah mengubah syariat dan agama, untuk mengajari mereka atau mengembalikan mereka ke dalam syariat Allah. Dia adalah hakim bagi mereka. Sedangkan nabi diutus dengan dakwah kepada syariat nabi/rasul sebelumnya.

II. NUBUWAH ADALAH ANUGERAH ILAHI

Kenabian bukanlah suatu tujuan yang dapat diraih dengan cara-cara tertentu, sehingga boleh dicapai oleh orang yang bersungguh-sungguh, juga bukanlah pangkat yang dapat ditempuh melalui perjuangan. Akan tetapi ia adalah kedudukan yang tinggi dan pangkat istimewa yang diberikan Allah kerana karunianya kepada siapa saja dan makhluk-Nya yang Dia kehendaki. Maka Dia mempersiapkannya agar mampu memikulnya. Dia menjaganya dari pengaruh syaitan dan memeliharanya dari kemusyrikan kerana rahmat dan kasih sayang-Nya semata, tanpa ada upaya yang ia kerahkan untuk mendapatkan dari untuk mencapai darjat kenabian itu. Bahkan ia hanyalah kurniaan Allah dan nikmat Ilahi semata, sebagaimana firman Allah,

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, iaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dan orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih.” (Maryam: 58)

Allah berkata kepada Musa a.s.:

“Allah berfirman, Hai Musa, sesungguhnya aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, oleh itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Al-A’raf:
144).

Allah menceritakan ucapan Yakub kepada anaknya, Yusuf a.s. dengan firman-Nya,

“Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi nabi).” (Yusuf: 6)

Sebagaimana halnya Allah mengingkari orang yang memandang bahwa salah satu dari dua orang besar di Makkah dan Thaif, yaitu al-Walid Ibnul Mughirah dan Urwah bin Masud ats-Tsaqafi, lebih berhak (pantas) untuk menjadi nabi. Hal itu terjadi ketika Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad, dan menjelaskan bahwa Dia adalah Rabb, Penguasa yang berhak melakukan apa saja serta yang mengurusi pembagian rezeki bagi semua makhluk-Nya.

Jadi sangatlah tidak benar manakala ada seseorang yang ikut campur tangan dalam menentukan siapa yang berhak menerima rahmat kenabian dan kerasulan. Maka Allah bercerita tentang mereka,

“Dan mereka berkata, ‘Mengapa al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Tha’if) ini?’ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia...,” (Az-Zukhruf: 31-32)

Allah telah mengancam orang-orang yang melampaui batas yang mengatakan, “Tidaklah kami beriman sebelum diberi seperti apa yang telah diberikan kepada rasul-rasul Allah,’ dengan firman-Nya,

“Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata, ‘Karni tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada rasul-rasul Allah’. Allah lebih rnengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.” (Al-An’am: 124)

Dalam ayat-ayat terdahulu terdapat petunjuk yang jelas bahwa kenabian itu tidak boleh diperoleh karena kebangsawanan atau karena jerih payahnya, akan tetapi ia adalah nikmat dari Allah serta rahmat yang dianugerahkan kepada sebahagian makhluk-Nya berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya dan tidak diberikan kepada orang yang mencari atau yang mengharapkannya.

III. SIFAT-SIFAT DAN MUKJIZAT RASUL

Pertama: Sifat-sifat Para Rasul

Dan definisi terdahulu kita mengetahui bahwa rasul adalah seorang manusia. Laki-laki merdeka yang Allah memilihnya dari nasab pilihan. Dia menjadikannya orang yang paling sempurna akalnya, paling suci jiwanya dan paling utama penciptaannya, supaya menunaikan pekerjaan-pekerjaan besar di antaranya menerima wahyu, menaatinya, menyampaikannya serta memimpin umat.

Maka para rasul adalah panutan/ikutan dalam hal sifat dan akhlak mereka. Dan pembicaraan tentang sifat-sifat mereka panjang sekali, tetapi diantaranya yang terpenting adalah:

a) Shidq (jujur dan benar)

Allah memberitahukan tentang para rasulNya,

“Mereka berkata, ‘Aduhai celakalah kami! Siapakah yang mernbangkitkan kami dari ternpat tidur kami (kubur)?’ Inilah yang dijanjikan (Tuhan) yang Maha Permurah dan benarlah rasul-rasul-Nya.” (Yasin: 52)

Sebagaimana Dia telah menyifati sebagian mereka dengan sifat itu; tentang Nabi Ibrahim a.s. Dia berfirman,

“Ceritakanlah (hai Muharnrnad) kisah Ibrahim di dalarn al-Kitab (al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat, membenarkan lagi seorang nabi.” (Maryam: 41)

Tentang Ismail Allah berfirman,

“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya Ia adalah seorang yang benar dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (Maryam: 54)

Tentang Idris. Dia berfirman,

“Dan ceritakanlah (hal Muhammad kepada mereka kisah) Idris (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.” (Maryam:56)

Tentang nabi kita Muhammad, Dia berfirman,

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (AzZumar: 33)

Tidaklah diragukan bahwa sifat shidq adalah inti risalah dakwah; dengannya akan luruslah segala urusan dan berbuahlah amal perbuatan. Sedangkan kadzib (bohong, dusta) adalah sifat kekurangan yang mustahil bagi manusia pilihan dan merupakan maksiat yang justru mereka peringatkan.

b) Sabar

Allah mengutus para rasul-Nya kepada manusia sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, mengajak mereka untuk taat kepada Allah serta memperingatkan agar tidak mendurhakaiNya. Ini adalah tugas berat dan sulit, tidak semua orang mampu memikulnya, akan tetapi orang-orang pilihanlah yang pantas dan mampu untuk itu. Kerananya para rasul Allah s.w.t. menemui bermacam-macam kesulitan dan beranekaragam gangguan, tetapi mereka tidak patah semangat kerananya, juga hal itu tidak membuat mereka melangkah surut ke belakang.

Allah telah mengisahkan kepada kita sebahagian dan nabi-nabi-Nya, sekaligus berbagai rintangan yang menghadangnya di jalan dakwah, juga sikap sabar mereka untuk memenangkan yang hak dan meninggikan kalimat Allah. Allah telah memerintahkan Nabi Muhammad untuk bersabar, sebagai bentuk peneladanan kepada para Ulul Azmi. Allah berfirman,

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dan rasul-rasul yang telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (adzab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat adzab yang diancamkan kepada mereka, mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (Al-Ahqaf: 35)

Tentu kita mendapat pelajaran dengan apa yang dikisahkan Allah tentang Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa dengan umatnya yang menentang dan mengganggu, namun demikian mereka tetap bersabar, teguh dan tegar sampai Allah menurunkan putusanNya.

Demikian pula dengan perjalanan hidup penutup para nabi yakni Muhammad, di dalamnya terdapat teladan agung dalam hal kesabaran dan ketabahan. Kaumnya telah mendustakan, menghina, mengganggu dan memulaukannya, tetapi beliau bersabar menghadapinya sampai Allah memenangkan agama-Nya. Mengenai rincian kisah-kisah tersebut sangatlah panjang, tidak cukup dalam buku dan risalah yang hanya beberapa halaman dan di dalam al-Qur’an hal itu juga telah dikisahkan.

Kedua: Mukjizat Para Rasul

Allah menciptakan manusia dan membekalinya dengan akal. Akal inilah yang menjadi syarat taklif. Karena akal ini manusia akan dihisab amalnya, dengan akal ini ia boleh membedakan barang-barang dan memisahkan antara yang berguna dengan yang berbahaya. Jika datang seseorang yang mengatakan, ia adalah seorang rasul (utusan) Allah, guna memberi hidayah kepada manusia serta memimpin mereka menuju kedamaian dan kebahagiaan dunia dan akhirat, maka hal ini berarti menyangkut keselamatan bagi manusia atau justeru kehancurannya. Karena itu setiap orang wajib melihat kondisi da’i, dan dakwahnya.

Allah telah mengistimewakan para rasul dan segenap makhluk biasa. Allah menjaganya dan tipu muslihat setan. Setan tidak bisa mengubah fitrah mereka. Maka mereka berbeda dengan kaum dan umatnya, karena sirah (perjalanan) hidup mereka yang harum dan fitrah mereka yang bersih.

Apabila hal itu digabungkan dengan ajaran mereka, maka akan menjadi bukti kuat tentang kebenaran mereka bagi orang-orang yang Allah telah menyinari mata hatinya. Allah telah mendukung mereka sebagai tambahan atas hal tersebut dengan sesuatu yang memaksa akal untuk mempercayainya. Maka para rasul itu datang dengan membawa mukjizat-mukjizatnya yang hebat; tidak mampu mendatangkannya kecuali Allah s.w.t., karena seluruh makhluk adalah milik-Nya, Dialah yang menakdirkan sesuatu menurut takaran-Nya, Dia menjadikan setiap makhluk berjalan sesuai dengan aturan-aturan tertentu yang tidak seorang pun dapat mengubahnya. Jika Allah hendak mendukung seorang hamba sebagai bukti atas kenabiannya, maka Allah menganugerahkan padanya sesuatu yang tidak mungkin boleh dilakukannya secara sempuma kecuali Allah s.w.t., baik berupa ilmu, kekuatan atau kecukupan. Allah s.w.t., Dialah yang mengata segalanya, berkuasa atas segalanya dan Dia Mahakaya, tidak memerlukan kepada alam semesta.

Allah s.w.t. memerintahkan Rasul-Nya Muhammad agar berlepas diri dari mendakwahkan tiga hal:

“Katakanlah, ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku’.” (Al-An am: 50)

Apabila terjadi melalui tangan seorang rasul sesuatu dari hal tersebut di atas maka ia adalah semata-mata perbuatan Allah, karena ia di luar kemampuan manusia. Maka ia adalah bukti nyata, manakala digabungkan dengan urusan rasul tersebut dengan rasul-rasul sebelumnya berdasarkan dakwahnya. Maka wajib atas umatnya mengimani serta mengikutinya. Jika tidak maka wajiblah adzab Allah atas mereka. Tanda-tanda dan bukti-bukti kebenaran mereka sudah jelas; ada bukti yang utama dan ada yang menjadi penguat bagi bukti utama atas kebenarannya, serta memperkukuh keimanan orang-orang mukmin terhadapnya.

Mukjizat rasul didefinisikan sebagai segala sesuatu yang luar biasa yang terjadi melalui tangan-tangan para nabi Allah dan rasul-Nya dalam bentuk sesuatu yang membuat manusia tidak boleh mendatangkan semisalnya.

Melalui tangan para nabi dan rasul telah terjadi mukjizat-mukjizat yang memaksa akal yang sihat untuk tunduk dan mempercayai apa yang dibawa oleh para rasul, baik itu karena diminta oleh kaumnya mahupun tidak. Mukjizat-mukjizat tersebut tidak lepas dari bentuk:

a) Ilmu, seperti pemberitahuan tentang hal-hal ghaib yang sudah terjadi ataupun yang akan terjadi; umpamanya pengkhabaran Nabi Isa a.s kepada kaumnya tentang apa yang mereka makan dan apa yang mereka simpan di rumah-rumah mereka. Sebagaimana juga pengkhabaran Nabi Muhammad tentang fitnah-fitnah atau tanda-tanda Hari Kiamat yang bakal terjadi, sebagaimana yang banyak dijelaskan dalam hadits-hadits.

b) Kemampuan dan kekuatan, seperti mengubah tongkat menjadi ular besar, yakni mukjizat Nabi Musa a.s. yang diutus kepada Fir’aun dan kaumnya. Kemudian penyembuhan penyakit buta, kulit belang-belang putih (sopak) serta menghidupkan orang-orang yang sudah mati, yang kesemuanya adalah mukjizat Nabi Isa a.s. Juga terbelahnya rembulan menjadi dua yang merupakan salah satu tanda kebenaran Rasul kita s.a.w.

c) Kecukupan, misalnya perlindungan bagi Rasulullah s.a.w., dan orang-orang yang menginginkan kejahatan kepadanya. Hal ini sering terjadi, ketika di Makkah sewaktu malam hijrah, ketika di dalam gua, lalu dalam perjalanan ke Madinah ketika bertemu dengan Suraqah bin Malik, lalu di Madinah ketika orang-orang Yahudi ingin menculiknya dan lain-lain. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa Allah mencukupi Rasul-Nya dengan perlindungan, sehingga tidak memerlukan lagi kepada perlindungan makhluk lain.

IV. BERIMAN KEPADA SEGENAP RASUL

Beriman kepada segenap rasul ertinya membenarkan dengan seyakin-yakinnya bahawa Allah mengutus seorang rasul pada setiap umat untuk mengajak mereka beribadah kepada Allah semata-mata, tanpa menyekutukan-Nya dan untuk kufur kepada hal yang selain-Nya. Serta kepercayaan bahawa semua rasul adalah benar, mulia, luhur, mendapat petunjuk serta menunjuki orang lain. Mereka telah menyampaikan apa yang kerananya mereka diutus oleh Allah, tanpa menyembunyikan atau mengubahnya. Allah berfirman,

“...maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu,’ maka di antara umat itu ada orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 35-36)

Dan mempercayainya bahwa sebahagian mereka lebih utama sebagian yang lain, Allah berfirman,

“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dan) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus.” (al-Baqarah: 253)

Juga percaya bahwa Allah telah menjadikan Nabi Ibrahirn dan Nabi Muhammad sebagai dua orang Khalil (kekasih) Allah. Dan Allah telah berbicara langsung dengan Musa a.s. serta telah mengangkat Nabi Idris pada tempat yang tinggi.

Iman kepada mereka semua adalah wajib. Siapa yang mengingkari seorang dari mereka maka ia telah kufur kepada semuanya, dan bererti pula telah kufur kepada Tuhan yang mengutus mereka, iaitu Allah. Allah berfirman,

“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dan rasul-rasul-Nya’ dan mereka mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat.’ (Mereka berdoa), ‘Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’.” (A1-Baqarah: 285)

Dan Allah berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membezakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada yang sebahagian (dari rasul-rasul itu), dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain),’ serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (lain) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeza-bezakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa: 150-152)

Sebagaimana kita wajib beriman kepada mereka secara umum, nabi yang kita ketahui mahupun yang tidak, maka begitu pula kita wajib mengimani secara khusus kepada para rasul yang disebutkan namanya oleh Allah. Telah disebutkan di dalam al-Quran lebih dari 20 nama rasul iaitu: Nuh, Idris, Shalih, Ibrahim, Hud, Luth, Yunus, Ismail, Ishaq, Yaqub, Yusuf, Ayyub, Syu’aib, Musa, Harun, Ilyasa’, Dzulkifli, Daud, Zakariya, Sulaiman, Ilyas, Yahya, Isa dan Muhammad. Dengan meyakini bahwa Allah juga mempunyai rasul-rasul selain mereka. Sebagaimana firman-Nya,

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu...” (Ghafir/Mukmin 40: 78)

Inti dari iman kepada mereka adalah taat, patuh dan tunduk kepada mereka dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya, dan mengharungi kehidupan ini berdasarkan manhaj mereka; kerana mereka adalah para penyampai wahyu Allah, dan mereka adalah suri tauladan bagi umatnya. Allah memelihara mereka dari kesalahan, Allah berfirman kepada Nabi-Nya,

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.” (Ali Imran: 31-32)

Maka taat kepada Allah dan beribadah kepada-Nya adalah dengan mengikuti mereka serta bertauladan kepada mereka.

Bukanlah termasuk iman kepada mereka jika pengangkatan dan pengagungan mereka melebihi batas kedudukan yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka adalah hamba dan jenis manusia yang Allah pilih dan siapkan untuk memikul risalah-Nya. Tabiat mereka adalah tabiat manusia. Mereka tidak memiliki hak uluhiyah (Ketuhanan). Mereka tidak mengetahui yang ghaib kecuali apa yang telah Allah beritahukan kepada mereka. Allah berfirman, memerintah Nabi Muhammad s.a.w., untuk menyampaikan kepada umatnya,

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku...” (Al-Kahfi: 110)

“Katakanlah, ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahawa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak ‘mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku’.” (Al-Anam: 50)

Allah telah mengisahkan ucapan Nabi Nuh kepada kaumnya,

“Dan aku tidak mengatakan kepada kaum (bahawa), ‘Aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib,’ dan tidak (pula) aku mengatakan, ‘Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat,’ dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu, ‘Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka.’ Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zhalim.” (Hud: 31)

Maka rasul pertama sampai rasul terakhir semuanya menafikan hak-hak istimewa ketuhanan dari diri mereka. Semuanya menjelaskan bahawa mereka bukanlah malaikat, tidak mengetahui yang ghaib dan tidak memiliki perbendaharaan Allah. Akan tetapi mereka adalah manusia yang diistimewakan oleh Allah s.w.t dengan menerima wahyu, dan mencapai puncak derajat kemanusian iaitu ubudiyah (penghambaan) yang murnii kepada allah Rabbul ‘alamin...

V. BERIMAN KEPADA MUHAMMAD SEBAGAI NABI DAN RASUL

Allah telah menyempurnakan agama ini untuk kita, dan telah menyempurnakan nikmat bagi kita, juga telah redha Islam sebagai agama kita; melalui tangan Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, penutup para nabi dan rasul, Muhammad s.a.w. Beliau adalah Rasul Allah untuk bangsa jin dan manusia, sebagai pemberi khabar gembira dan ancaman, yang menyeru kepada Allah dengan seizin-Nya dan sebagai lampu yang menerangi.

Maka setiap orang yang mengetahui kerasulannya s.a.w., tetapi tidak mengimaninya, ia berhak menerima siksa Allah seperti orang-orang kafir lainnya. Allah berfirman,

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuredhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (AlAhzab: 40)

Sedangkan hadits yang menunjukkan khatmun nubuwwah (penutup kenabian) maka banyak sekali, di antaranya adalah sabda beliau,

“Sesungguhnya aku mempunyai banyak nama, aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah al-Mahi (penghapus) yang mana Allah menghapus kekufuran dengan diriku, aku adalah al-Hasyir (yang mengumpulkan) di mana manusia nanti akan dikumpulkan dihadapanku, aku adalah al-Aqib; Aqib adalah yang sesudahnya tidak ada nabi.” (HR. Muslim IV! 1828, lihat juga alBukhari VI/188)

Juga Sabda Rasulullah s.a.w.,

“Aku diistimewakan di atas para nabi dengan enam perkara: aku diberi jawami’ul-kalim (ungkapan yang mencakup makna yang luas), aku dimenangkan dengan rasa ketakutan (di hati musuh-musuhku), untukku dihalalkan ghanimah (rampasan perang), bagiku dijadikan bumi sebagai alat bersuci dan tempat sujud, dan aku diutus kepada makhluk semuanya, dan denganku para nabi ditutup.” (HR. Muslim 1/371, lihat Musnad Ahmad 11/412)

Dalam beberapa ayat dan hadits di atas terdapat dalil yang nyata dan jelas bahwa Allah s.w.t. telah menyempumakan nikmat-Nya untuk kita dengan menunjukkan kepada jalan yang litrus, dan telah menyempurnakan agama kita sehingga kita tidak perlu lagi kepada yang lainnya, juga tidak kepada nabi lain selain dari nabi kita s.a.w., karena Allah telah menjadikannya sebagai penutup para nabi, tidak ada yang halal kecuali yang sudah dihalalkannya, dan tidak ada yang haram melainkan yang sudah diharamkannya, serta tidak ada agama kecuali apa yang telah disyariatkannya. Beliau adalah utusan Allah kepada makhluk semuanya. Allah berfirman, memerintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikannya,

“Katakanlah, ‘Hal manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua." (Al-A’raf: 158)

“Dan al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan ia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya).” (Al-An’am: 19)

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.” (Saba’: 28)

Rasulullah bersabda sebagaimana dalam hadits di atas, “Dan aku diutus kepada makhluk secara keseluruhan.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Dan bersabda,

“Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya! Tidak seorang pun mendengar tentang aku dan umat (manusia) ini, seorang Yahudi atau pun Nasrani, kemudian meninggal dunia dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus kerananya, kecuali termasuk para penduduk neraka.” (HR. Muslim 1/134)

Jadi syahadah atau persaksian atas keesaan Allah dan kerasulan Muhammad adalah rukun pertama dan rukun Islam, yang Allah tidak menerima agama selainnya. Sebagaimana Rasulullah s.a.w. bersabda,

“Islam itu dibangun di atas lima rukun: Menyaksikan bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah dan bahawa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat dan haji ke Baitullah serta puasa Ramadhan.” (HR. Muslim 1/45, lihat al-Bukhari 1/13)

Untuk menegakkan hujjah bagi segenap manusia sampai Hari Kiamat, Allah menjadikan al-Quranul Karim sebagai dalil dan bukti terkuat atas kenabian Muhammad s.a.w. Ia adalah mukjizat abadi, Allah menjamin untuk menjaga dan melindunginya dari tangan-tangan jahil dan kotor agar tetap manjadi bukti kebenaran Muhammad dan hujjah bagi Allah atas makhluk-Nya sampai Hari Kiamat.

1 comment:

elfizonanwar said...

Jika pengertian tersebut kita pakai, maka seorang 'nabi' karena tidaklah dibebani dengan kewajiban menyampaikan wahyu, menimbulkan kesan 'seolah-olah' hanya beliau sajalah yang akan masuk sorga, sementara umatnya tidak perlu. Lalu, apa beda nabi dengan rasul yang kiranya tepat dengan pengertian dan makna di dalam Al Quran itu sendiri.

Kalau kita lihat dari tugas pokok dan fungsi kenabian dan kerasulan, saya kira tidak ada bedanya karena missi yang diembannya mereka adalah sama, adalah 'menyampaikan' wahyu dari Allah SWT kepada umat manusia. Untuk ini, kita lihat dari konteks para penyandang jabatan itu sendiri dalam rangka melaksanakan tugasnya.

Sebenarnya kalau diteliti dan kaji di dalam Al Quran misalnya tokoh rasul, nampaknya tidak hanya dianugerahkan oleh Allah SWT kepada 'manusia pilihan'-Nya semata, tetapi juga kepada makhluk-Nya yang selain manusia, yang utama malaikat dan ada juga jin, bahkan bisa juga makhluk-Nya yang lain seperti hewan. Contoh, rasul yang disandang oleh malaikat seperti termuat dalam QS. 6:130, 11:81, 22:75,dan QS. 35:1

Sementara nabi, sebaliknya tidak ada jabatan kenabian yang diberikan kepada malaikat dan jin, hanya kepada 'manusia' saja, terbukti dalam QS. 33:40 dengan tegas kenabian yang berasal dari manusia ini sudah tertutup dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW. Begitu juga jabatan ‘rasul’ yang berasal dari manusiapun sudah tertup karena umumnya seorang rasul biasanya dia adalah seorang nabi juga.

Tetapi, jabatan kerasulan selain dari manusia misalnya dari malaikat tidak tertutup, kan malaikat sampai akhir zaman tetap saja melaksanakan missi-Nya seperti diutus untuk mencabut nyawa 'anak manusia', memberi rezeki dll. Jika demikian, ya kalau ada 'manusia' ingin dan mengaku menjadi 'rasul', maka dia harus menjadi malaikat atau jin terlebih dahulu. Berarti, tidak juga tepat jika kita katakan bahwa Muhammad SAW adalah rasul dan nabi terakhir, hal ini tidak sesuai dengan QS. 33:40 ini.