Wednesday, July 1, 2009

104 - Berdoalah, Nescaya Allah Akan Memperkenankannya

Berdoalah, Nescaya Allah Akan Memperkenankannya

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com

Suatu perkara yang diyakini oleh kebanyakan manusia sama ada dari umat Islam atau pun seluruh penganut agama yang ada atau oleh yang selainnya bahawa doa itu adalah senjata paling ampuh untuk meraih manfaat dan menolak mara bahaya. Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri mengkhabarkan tentang orang-orang kafir, bahawa mereka apabila di dalam keadaan kesempitan juga turut berdoa kepada Allah dengan penuh harapan. Di ketika Allah mengabulkan doa hamba-Nya, sama ada dia kafir atau pun muslim, maka pengabulan itu adalah seperti rezeki untuk mereka. Perkara terebut menjadi tanda ke-Rububiyahan-Nya (sifat ketuhanan bagi Allah) secara jelas. Kemudian seringkali rezeki itu justeru menjadi bencana bagi mereka, dengan sebab kekufuran atau pun kefasikan. (Rujuk: Ibnu Abil Izz al-Hanafi, Tahzib Syarah ath-Thahawiyah, jil. 1, Pustaka at-Tibyan)

Pengertian Doa:

Doa adalah permintaan seseorang hamba kepada Tuhannya dalam bentuk pengharapan. Kata ini juga mencakupi makna taqdis (penyucian), tamhid (puji-pujian) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan doa adalah salah satu bentuk ibadah yang agung serta sebahagian dari zikir. (Syaikh Dr. Sai’id Ali Wahf al-Qahthani, Mengapa Doa-ku Tidak Terkabul, m/s. 19, Daar an-Nabaa’ (August 2007))

Doa Adalah Ibadah:

Dari al-Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhu, Dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, katanya:

“Doa itu adalah ibadah.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi, no. 2969. Menurut al-Albani, hadis ini Sahih, Shahih Sunan at-Tirmidzi)

Saranan Berdoa Dan Menjauhi Sombong:

Allah berfirman (maksudnya):

“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.” (Surah al-Mu’min, 40: 60)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Surah al-Baqarah, 2: 186)

Allah Sentiasa Mendengar Doa Hambanya:

Dari Abu Musa al-Asy’ari, beliau menjelaskan:

Ketika kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam di dalam suatu perperangan, tidaklah kami mendaki tanah tinggi, menaiki bukit, dan menuruni lembah, melainkan kami meninggikan suara ketika bertakbir. Kemudian beliau mendekati kami dan bersabda:

“Wahai sekalian manusia, tahanlah diri kamu, sesungguhnya kamu tidak berdoa (menyeru) kepada Tuhan yang tuli (pekak) dan jauh, akan tetapi kamu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Melihat. Sesungguhnya Tuhan yang kamu seru itu lebih dekat kepada seseorang di antara kamu melebihi dekatnya seseorang dari kamu dengan leher binatang tunggangannya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, 2992)

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahawasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Allah Ta’ala berfirman, “Aku menuruti persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku akan sentiasa bersamanya jika ia berdoa kepada-Ku.” (Hadis Riwayat Ahmad, 3/210)

Allah Memperkenankan Doa:

Dari Abu Sa’id, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Tidaklah seorang mu’min berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan doa yang tidak mengandungi dosa atau memutuskan tali silaturrahim melainkan Allah akan memberikan kepadanya satu di antara tiga perkara:

1 - Allah akan segera memperkenankan doanya di dunia, atau

2 – Allah Subhanahu wa Ta’ala menyimpannya sebagai pahala di akhirat, atau

3 – Allah memeliharanya dari keburukan diri semisal apa yang dia minta.”

Mereka berkata: “Sekiranya begitu, kami akan memperbanyakkan doa (terus kerap berdoa)”. Nabi bersabda: “Allah lebih banyak lagi pemberian-Nya”.” (Hadis Riwayat Ahmad, 3/18. Menurut Syaikh al-Albani, hadis ini sahih, Shahihul Jami’, no. 5714)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

“Doa salah seorang di antara kamu akan sentiasa diperkenankan selama dia tidak teburu-buru, iaitu dengan mengatakan:

“Aku sudah berdoa namun tidak juga dipernankan bagiku”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 6340)

Tiga Doa Yang Tidak Tertolak:

1 – Doa orang tua (ibu bapa) terhadap anaknya.

2 – Doa orang yang sedang berpuasa.

3 – Doa orang yang sedang dalam perjalanan (musafir). (Rujuk: Silsilah al-Ahadis ash-Shahihah, no. 1797)

Berdoa Dengan Hati Yang Khusyu’ Penuh Kesungguhan:

“Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (Surah al-Anbiya’, 21: 89-90)

“… Mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap.” (Surah as-Sajdah, 32: 16)

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Apabila salah seorang dari kamu berdoa, hendaklah dia bersungguh-sungguh di dalam doanya, janganlah dia berkata: “Jika Engkau berkehendak berilah kepadaku, Sesungguhnya tidak ada yang dapat memaksa Allah”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 6338)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Janganlah seseorang dari kamu mengucapkan di dalam doanya:

“Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau mahu, Ya Allah, rahmatilah aku jika Engkau mahu”. Tetapi hendaklah dia bersungguh-sungguh meminta dan meninggikan harapan terkabulnya doa yang dipohon, kerana sesungguhnya apabila Allah Subhanahu wa Ta’ala mengira ia sebagai sesuatu yang penting, pasti Dia akan memberikannya.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 339)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Berdoalah kamu kepada Allah dengan keyakinan doa kamu akan diperkenankan.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi. Shahih Sunan at-Tirmidzi, no. 2766, menurut Syaikh al-Albani hadis ini hasan)

Sebahagian Adab Berdoa Supaya Doa Diterima:

1 – Tidak bergelumang dengan perkara-perkara haram, meliputi pakaian, makanan, minuman atau seumpamanya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘ahu, dia berkata bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa menjelaskan tentang seseorang yang sedang dalam perjalanan (musafir) yang panjang, rambutnya kusut dan berdebu. Dia berdoa sambil menadahkan tangannya ke langit, lalu mengatakan, “Ya Tuhanku, ya Tuhanku...” Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dia dikenyangkan dengan makanan yang haram, lalu bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan.” (Hadis Riwayat Muslim, no. 1015)

2 – Jangan bersikap Terburu-buru dan Merasa Cepat Bosan:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

“Doa salah seorang di antara kamu akan sentiasa diperkenankan selama dia tidak teburu-buru, iaitu dengan mengatakan:

“Aku sudah berdoa namun tidak juga dipernankan bagiku”.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, no. 6340)

“Sentiasa dikabulkan doa seseorang hamba selama ia tidak berdoa dengan doa yang mengandungi dosa atau pemutusan silaturrahim dan selama ia tidak tergesa-gesa.”

Ada seorang sahabat yang bertanya:

“Wahai Rasulullah, apa yang dimaksudkan dengan tergesa-gesa?”

Nabi menjawab:

“Dia berkata dengan: “Aku sudah berdoa, aku sudah berdoa. Namun aku lihat Allah tidak memperkenankan doaku.” Dan dia berputus-asa (bosan) lalu meninggalkannya.” (Hadis Riwayat Muslim, no. 2096)

3 – Tidak Melupakan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar:

Dari Huzaifah radhoyallahu ‘anhu, Nabi bersabda: “Demi Allah yang jiwaku berada di Tangan-Nya, kamu harus beramar ma’ruf dan nahi mungkar, atau jika tidak Allah pasti akan menurunkan siksa ke atas kamu, kemudian apabila kamu berdoa ia tidak akan diperkenankan.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi, dan beliau menghasankannya. Lihat: al-Albani, Shahihul Jami’, no. 6947)

4 – Tidak Memohon Doa Yang Mengandungi Dosa Dan Pemutusan Silaturrahim.

5 – Sentiasa Memperbanyakkan Doa Di Waktu Senang Mahu Pun Susah:

Dari Abu Hurairah rahiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesiapa yang ingin agar Allah memperkenankan doanya di saat-saat sempit dan kesusahan, maka hendaklah dia memperbanyakkan berdoa di saat-saat ia senang.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi, no. 3382. Dihasankan oleh al-Albani di dalah Shahih Sunan at-Tirmidzi)

6 – Berdoa Dengan Merendah Diri dan Suara Yang Lembut:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendah diri dan dengan suara yang lembut.” (Surah al-A’raaf, 7: 55)

7 - Disunnahkan Mengulang-ulang doa.

8 - Menghadap Kiblat.

9 - Menadah tangan bagi doa yang bersifat mutlak (permintaan khusus).

Dari Salman radhiyallahu 'anhu, beliau berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Sesungguhnya Tuhan kamu Tabaraka wa Ta'ala Maha Malu dan Maha Mulia, dia malu terhadap hamba-Nya apabila mengangkat tangan (berdoa) kepada-Nya lalu Dia kembalikan dalam keadaan kosong (tidak diterima doanya)." (Hadis Riwayat Abu Daud, no. 1488)

Wallahu a’lam...

103 - Berdoa Kepada Allah Dengan Perasaan Takut dan Harap

Berdoa Kepada Allah Dengan Perasaan Takut dan Harap

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com

Allah menjelaskan melalui firman-Nya (maksudnya):

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Surah al-Baqarah, 2: 186)

“Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”.” (Surah al-Mu’min, 40: 60)

“… Mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap.” (Surah as-Sajdah, 32: 16)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (maksudnya):

“Aku meminta kepada Allah syurga dan aku meminta perlindungan kepada-Nya dari Neraka.” (Hadis Riwayat Abu Daud)

Penjelasan:

1 – Dalil-dalil tersebut menunjukkan berkenaan keutamaan bertasbih dan berdoa kepada Allah.

2 – Celaan bagi orang yang sombong yang tidak mahu berdoa kepada Allah.

3 – Keutamaan berdoa dalam keadaan merendah diri dan perasaan takut serta dengan penuh harapan kepada Allah.

Tuesday, June 30, 2009

102 - Persoalan ‘Arsy & Kursi Serta Penjelasan Bahawa Allah Tidak Memerlukan ‘Arsy

Persoalan ‘Arsy & Kursi Serta Penjelasan Bahawa Allah Tidak Memerlukan ‘Arsy

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com/

al-Imam Abu Ja’afar Ahmad B. Muhammad ath-Thahawi berkata:

والعرش والكرسي حق

“Adanya ‘Arsy dan Kursi adalah benar.” (no. 49)

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata:

Ketahuilah bahawa ‘Arsy adalah makhluk Allah yang sangat besar. Perkara ini disebutkan di dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis. Kerana besarnya ‘Arsy, Allah menisbatkan ‘Arsy ini kepada diri-Nya. Di dalam satu ayat, Allah berfirman (maksudnya) “Pemilik ‘Arsy”. Dalam asy-Syarah, disebutkan beberapa ayat lain yang menyebutkan penisbatan ‘Arsy kepada Dzat Allah.

Secara bahasa, ‘Arsy ertinya adalah singgahsana raja. Tentang bagaimana keadaan ‘Arsy, di sebutkan di dalam al-Qur’an, di antaranya:

“Dan pada hari tersebut, delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (Surah al-Haqqah, 69: 17)

“Dan ‘Arsy tersebut berada di atas air.” (Surah Hud, 11: 7)

Di dalam hadis disebutkan bahawa jarak di antara hujung telinga dengan bahu salah satu malaikat pemikul ‘Arsy adalah sejauh 700 tahun. ‘Arsy memiliki tiang-tiang penyangga (penyokong). Dan ‘Arsy merupakan atap dari Syurga Firdaus. Ini disebutkan di dalam hadis-hadis sahih yang tercantum di dalam kitab asy-Syarah (yang ditulis oleh Ibnu Abil ‘Izz).

Hadis-hadis tersebut membantah takwil sebahagian orang yang mengatakan bahawa ‘Arsy adalah permisalan dari suatu kerajaan dan besarnya kekuasaan Allah.

Ada pun tentang masalah kursi Allah, ada ayat al-Qur’an yang menyebutkannya, iaitu (maksudnya):

“Luas Kursi Allah adalah seluas langit dan bumi.” (Surah al-Baqarah, 2: 255)

Kursi Allah di hadapan ‘Arsy-Nya. Dalam sebuah riwayat yang sahih tetapi mauquf disebutkan bahawa Ibnu ‘Abbas berkata, “Kursi adalah tempat berpijak dua kaki Allah, manakala ‘Arsy tidak ada yang tahu betapa besarnya melainkan Allah.” Atsar ini disebutkan di dalam kitabku yang berjudul Mukhtashar al-‘Uluw li adz-Dzahabi, hadis no. 36.

Di dalam persoalan kursi Allah, tidak ada hadis Nabi yang sahih melainkan perkataan Nabi (maksudnya):

“Luas tujuh langit jika dibandingkan dengan kursi Allah hanyalah seperti cincin yang dilemparkan di padang pasir yang luas. Dan ‘Arsy Allah jika dibandingkan dengan kursi-Nya adalah sebagaimana perbandingan padang yang luas tadi dengan cincin tersebut.”

Dengan itu, hadis tersebut juga telah membantah takwil Ibnu ‘Abbas bahawa kursi Allah maksudnya ilmu Allah. Ini telah saya jelaskan di dalam ash-Shahihah, hadis no. 109.

al-Imam Abu Ja’afar Ahmad B. Muhammad ath-Thahawi berkata:

وهومستغن عن العرش ومادونه

“Dia tidak memerlukan ‘Arsy dan apa jua yang berada di bawahnya.” (no. 50)

Syaikh al-Albani rahimahullah mengulas perkataan ini dengan penjelasannya:

Salah seorang pemberi syarah kitab ini, Ibnu Abil ‘Izz berkata: “Syaikh ath-Thahawi mengatakan perkataan di atas, kerana setelah Allah Ta’ala menyebut ‘Arsy dan kursi, dilanjutkan dengan menyebut bahawa Dia tidak memerlukan kepada ‘Arsy dan apa jua yang berada di bawahnya. Perkara tersebut adalah bagi menegaskan bahawa Dia menciptakan ‘Arsy sebagai tempat bersemayam bukan kerana Dia memerlukan ‘Arsy. Ada hikmah tertentu di dalam penciptaan ‘Arsy. Sesuatu yang tinggi memeang selalu berada di atas sesuatu yang rendah. Namun, tidak semestinya sesuatu yang rendah itu menjadi tempat berpijak dan penyangga sesuatu yang tinggi (di atas). Sesuatu yang tinggi pula tidak semestinya memerlukan sesuatu yang rendah. Sebagai contoh, lihatlah langit! Walau pun berada di atas bumi, langit tidak memerlukan bumi.

Allah Ta’ala Maha Agung dan Maha Mulia. Keagungan dan Kemuliaan Allah memiliki kekhususan tersendiri. Allah tidak bergantung kepada sesiapa pun. Dengan kehendak-Nya, Allah menguasai makhluk-makhluk-Nya yang ada di bawah. Makhluk-makhluk-Nya yang ada di bawah sangat memerlukan bantuan Allah, manakala Allah sendiri sama sekali tidak memerlukan mereka. Dan Allah mengetahui mereka.

Allah berada di atas ‘Arsy. Dengan kehendak-Nya, Allah menguasai ‘Arsy dan memegangnya. Walau pun begitu, Allah tidak perlu kepada ‘Arsy. ‘Arsy-lah yang memerlukan Allah. Allah menguasai ‘Arsy, tetapi tidak sebaliknya. ‘Arsy tidak melingkupi Allah. Allah membatasi wilayah ‘Arsy, namun ‘Arsy tidak membatasi wilayah Allah. Dan keistimewaan-keistimewaan seperti di atas hanya dimiliki Allah.

Orang-orang yang menafikan kedudukan Allah yang tinggi di atas ‘Arsy adalah para ahli ta’thil. Sebenarnya jika mereka memahami eksistensi (kewujudan) Allah dengan pemahaman sebagaimana di atas nescaya mereka akan terbimbing ke jalan yang lurus dan akan menyedari kedudukan akal terhadap wahyu. Mereka pun akan berjalan dengan mengikuti dalil. Akan tetapi, sungguh disayangkan, mereka meninggalkan dalil sehingga mereka menempuh jalan yang sesat.

Sikap yang benar di dalam masalah ini adalah sebagaimana sikap yang ditunjukkan oleh Imam Malik rahimahullah. Beliau pernah ditanya tentang ayat (yang maksudnya) “Dia bersemayam (istiwa) di atas ‘Arsy” yang terdapat di dalam surah al-A’raaf, 7: 54. Beliau ditanya, “Bagaimana cara Allah bersemayam?” Beliau pun menjawab, “Perbuatan bersemayam itu maklum (diketahui), namun mempersoalkan dengan bagaimana itu termasuk perkara yang tidak boleh dilakukan”.

Rujuk: Syaikh al-Albani, Taqliq dan Syarah ‘Aqidah ath-Thawiyah.

101 - Memohon Sesuatu Kepada Orang Yang Telah Mati

Memohon Sesuatu Kepada Orang Yang Telah Mati

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com/

Memohon (berdoa) kepada orang yang telah mati atau yang tidak berada di hadapan kita (memohon secara ghaib) adalah merupakan perbuatan syirik besar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudharat kepadamu selain Allah, kerana jika kamu melakukan seperti itu, maka sesungguhnya kamu tergolong dari orang-orang yang zalim.” (Surah Yunus, 10: 106)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (maksudnya):

“Sesiapa yang mati sedangkan dia masih memohon kepada tandingan selain Allah, niscaya dia akan masuk neraka.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, Kitab al-Jadid)

Kesimpulan:

1 – Sesiapa yang melakukan kesyirikan, maka dia diancam neraka. Jika dia melakukan syirik besar, maka ia kekal di dalam Neraka, dan sekiranya dia melakukan syirik kecil, maka ia akan disiksa oleh Allah bersesuaian dengan kehendak Allah dan pasti akan dikeluarkan dari Neraka setelah itu.

2 – Nasib seseorang di akhirat kelak adalah bergantung kepada bagaimana amalan akhir kehidupannya.

3 – Allah menjelaskan bahawa yang memberi manfaat, menghilangkan kesulitan, mendatangkan serta menghilangkan mudharat adalah hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan perkara ini merupakan kekhususan bagi Allah sahaja.

4 – Sesiapa yang berdoa atau meminta kepada selain Allah dan meyakini bahawa sesuatu tersebut mampu memberi manfaat dan menghilangkan kesusahan, maka sebenarnya orang tersebut telah melakukan kesyirikan yang besar.

5 – Perbuatan syirik adalah merupakan kezaliman yang paling besar.

100 - Doa Itu Ibadah

Doa Itu Ibadah

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalan kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan ia bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku, akan masuk ke Neraka Jahannam dalam keadaan hina”.” (Surah Mukmin, 40: 60)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (maksudnya):

“Doa itu adalah ibadah.” (Hadis Riwayat at-Tirmidzi, hasan Sahih)

Kesimpulan:

1 – Doa adalah ibadah yang agung, maka tidak boleh berdoa dan memohon kepada selain Allah.

2 – Sesiapa yang berdoa dan beribadah kepada selain Allah, maka orang tersebut akan dihinakan oleh Allah dan dimasukkan ke Neraka Jahannam.

3 – Orang yang tidak mahu beribadah kepada Allah adalah orang yang sombong, padahal Allah-lah yang memberi rezeki, menghidupkan, dan memelihara.

Saturday, June 27, 2009

099 - Tujuan Para Rasul Diutuskan

Tujuan Para Rasul Diutuskan

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com

Tujuan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutuskan para Rasul-Nya adalah untuk menyeru manusia untuk beribadah dengan membersihkan segala bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ini dijelaskan sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (maksudnya):

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus para Rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah sahaja dan jauhilah taghut”.” (Surah an-Nahl, 16: 36)

Thagut adalah syaitan yang menyeru manusia agar menuju bentuk-bentuk peribadatan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallah bersabda (maksudnya):

“Para Nabi itu adalah bersaudara... dan agama mereka adalah satu.” (Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Juga firman-Nya (maksudnya):

"Dan tidaklah Kami mengutus sebelummu (Wahai Muhammad) seorang Rasul pun melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahawa Sesungguhnya tiada Ilah (Tuhan yang berhak disembah dengan benar) melainkan Aku; oleh itu, Beribadatlah kamu kepadaku". (Surah al-Anbiya’, 21: 25)

dan,

“Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia itu melainkan untuk mengabdikan diri kepada-Ku.” (Surah adz-Dzariyat, 51: 56)

Imam Ibnu Katsir menjelaskan di dalam tafsirnya bahawa: “Ayat ini memerintahkan supaya manusia mentauhidkan Allah dan meninggalkan segala bentuk perbuatan (amalan) syirik.”

Kesimpulan:

1 – Manusia diciptakan dengan tujuan tertentu sebagaimana yang telah Allah tetapkan.

2 – Setiap umat pasti diturunkan Rasul (penyampai utusan Allah) yang bertujuan mengajarkan perkara agama.

3 – Setiap Rasul yang diutuskan memiliki tujuan yang paling utama iaitu menyerukan manusia supaya mentauhidkan Allah dan meninggalkan taghut (kesyirikan).

4 – Setiap Rasul membawa agama yang satu, iaitu Islam.

5 – Sesungguhnya hidayah dan taufiq itu adalah milik Allah.

Tuesday, June 16, 2009

098 - Beberapa Perkara Penting Dalam Persoalan Asas Iman

Beberapa Perkara Penting Dalam Persoalan Asas Iman

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com

Iman itu adalah pengakuan dengan hati, ucapan (lisan), dan perbuatan (amalan).

1 - Bahawa seseorang yang mengakui iman dengan hati dan lidahnya, lalu dia tidak berbuat taat (dengan meninggalkan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya), maka dia telah berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berhak diancam dosa.

2 – Amal perbuatan dengan keseluruhan jenis-jenisnya yang meliputi amalan hati dan amalan anggota badan adalah termasuk hakikat iman. Ahlus Sunnah tidak mengeluarkan amalan sekecil apa pun dari hakikat iman ini, apatah lagi amalan-amalan besar dan agung.

3 – Seseorang yang menyatakan bahawa amal perbuatan tidak termasuk ke dalam kategori iman, dan dia menyatakan bahawa iman itu berpisah dan berbeza dari amal-amal, lalu menyatakan bahawa iman seorang manusia tidak akan berubah walau pun tidak berbuat taat dan dalam keadaan bermaksiat, maka ini adalah suatu bentuk pemaksuman diri.

4 – Iman itu boleh bertambah, dengan amalan kebaikan (ketaatan). Dan iman itu berkurang dengan disebabkan perbuatan maksiat/dosa.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka.” (Surah al-Anfal, 8: 2)

“Supaya orang-orang yang diberi al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya.” (Surah al-Muddatsir, 74: 31)

“(Iaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”.” (Surah ‘Ali Imran, 3: 173)

5 – Iman memiliki tingkatan-tingkatan serta cabang-cabangnya. Sebahagian di antaranya jika ditinggalkan, maka menjadikan seseorang itu kufur, sebahagian yang lain jika ditinggalkan, adalah dosa (sama ada kecil atau besar), dan sebahagian yang lain jika ditinggalkan akan menyebabkan hilangnya kesempatan memperolehi pahala dan menyia-nyiakan ganjaran.

6 – Ahlus Sunnah tidak mengkafirkan Ahlul Qiblat (kaum Muslimin) secara mutlak, dengan sebab perbuatan maksiat dan dosa besar yang mereka lakukan, sebagimana yang dilakukan (diyakini) oleh kaum Khawarij, malah persaudaraan iman mereka tetap terpelihara, walau pun berbuat maksiat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

“Dan jika dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, maka damaikanlah di antara keduanya.” (Surah al-Hujuraat, 49: 9)

7 – Ahlus Sunnah meyakini (beri’tiqad) bahawa orang Islam yang melakukan dosa besar atau fasiq tidak dihukumi kekal di dalam Neraka. Dengan kehendak Allah, orang yang mati dalam keadaan berdosa besar atau fasiq selagi mana dia masih bertauhid (tidak kafir/syirik), dengan kehendak Allah dia boleh dihukum ke Neraka dan dia tidak kekal di dalamnya, dan dengan Rahmat Allah, dia akan dimasukkan ke Syurga, setelah diampunkan dosa-dosanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya. Sesiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh dia telah berbuat dosa yang besar.” (Surah an-Nisaa’, 4: 48)