__________________________________________________________________________________

| Nawawi | Aqeedah | Fiqh | Anti Syirik | Galeri Buku | Galeri MP3 | U-VideOo |
__________________________________________________________________________________

Wednesday, November 12, 2008

081 - (Bahagian 20) - Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Menurut Imam Ahmad

(Bahagian 20) - Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Menurut Imam Ahmad

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com

Dari imam Ahmad bin Hanbal (katanya):

Dasar ahlus sunnah menurut kami adalah,

40 – Barangsiapa yang menemui Allah dalam keadaan kafir, niscaya Dia menyiksanya dan tidak mengampuninya. (Imam Ahmad bin Hanbal, Ushulus Sunnah, prinsip 40)

Penjelasan/Syarah:

Dalilnya adalah Firman Allah :

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya syurga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.” (Surah al-Ma’idah, 5: 72)

Dan firman-Nya pula:

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan sesuatu pun dengan Dia.” (Surah an-Nisa, 4: 116)

Lihat pula at-Ta’liq ‘ala ath-Thahawiyyah hal. 41.

Dinukil dan disunting dari:

Kitab Ushulus Sunnah, oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Tahqiq/Syarah Walid bin Muhammad Nubaih, m/s. 127-128. (Edisi Terjemahan: Terbitan Pustaka Darul Ilmi, Mac 2008M)

Tuesday, November 4, 2008

080 - (Bahagian 19) - Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Menurut Imam Ahmad

(Bahagian 19) - Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Menurut Imam Ahmad

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com

Dari imam Ahmad bin Hanbal (katanya):

Dasar ahlus sunnah menurut kami adalah,

38 - Barangsiapa berjumpa dengan Allah di mana hukuman telah dilaksanakan hukuman atas dosanya di dunia, maka itu adalah kaffarahnya (penghapus dosanya). Sebagaimana dijelaskan di dalam hadis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

39 – Barangsiapa berjumpa Allah dengan keadaan yang terus-menerus melakukan dosa tanpa bertaubat dari dosanya, yang mana dosa-dosa tersebut mengharuskannya disiksa, maka urusannya terserah kepada Allah. Jika dia berkehendak, Dia menyiksanya. Dan jika Dia berkehendak, Dia mengampuninya. (Imam Ahmad bin Hanbal, Ushulus Sunnah, prinsip 38 & 39)

Penjelasan/Syarah:

Hadisnya adalah sahih iaitu sebagaimana yang dijelaskan dari Khuzaimah bin Tsabit dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

“Barangsiapa melakukan dosa dan kemudian dilaksanakan hukuman kepadnaya di atas sebab dosa tersebut kepadanya, maka hukuman itu adalah sebagai kaffarahnya (penghapus dosanya).” (Dikeluarkan oleh Ahmad (5/215), dan al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani menghasankan isnadnya di dalam Fathul Baari (1/86). Lihat juga Silsilah Ahaadis ash-Shahihah (1755))

Dan di dalam hadis dari Ubadah bin Shamit secara marfu’,

“Berbai’atlah kepadaku untuk tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anak kamu, tidak akan berdusta yang kamu ada-adakan di antara tangan dan kaki kamu dan tidak akan bermaksiat dalam urusan yang baik. Maka barangsiapa di antara kamu yang menyempurnakan (bai’at ini), maka pahalanya ditanggung Allah. Dan barangsiapa yang melakukan sesuatu dari (larangan) itu, lalu dia dihukum (dengan had) di dunia, maka itu merupakan penebus dosa. Dan barangsiapa yang melakukan sesuatu dari itu, lalu Allah menutupinya, maka dia terserah kepada Allah. Jika Dia (Allah) berkehendak, Dia menyiksanya. Dan jika Dia berkehendak, Dia memaafkannya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (1/81). Dan banyak lagi selainnya. Dan diriwayatkan oleh Muslim, hadis no. 1709, Kitab al-Hudud, bab 10)

Dan Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan sesuatu pun dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu, bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisaa’, 4: 116)

Dan lihat pula at-Ta’liq ‘Ala ath-Thahawiyyah, hal. 45 dan syarahnya hal. 37 dan yang setelahnya.

Dinukil dan disunting dari:

Kitab Ushulus Sunnah, oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Tahqiq/Syarah Walid bin Muhammad Nubaih, m/s. 123-124. (Edisi Terjemahan: Terbitan Pustaka Darul Ilmi, Mac 2008M)

079 - (Bahagian 18) - Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Menurut Imam Ahmad

(Bahagian 18) - Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Menurut Imam Ahmad

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com

Dari imam Ahmad bin Hanbal (katanya):

Dasar ahlus sunnah menurut kami adalah,

37 - Barangsiapa berjumpa Allah dengan membawa dosa yang menyebabkannya masuk ke dalam neraka sedangkan dia dalam keadaan bertaubat dan tidak terus-menerus di dalam dosa, maka sesungguhnya Allah akan mengampuninya dan menerima taubat dari hamba-hambanya serta memaafkan kesalahan-kesalahannya. (Imam Ahmad bin Hanbal, Ushulus Sunnah, prinsip 37)

Penjelasan/Syarah:

Ini adalah sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surah asy-Syuura, 42: 25)

Dinukil dan disunting dari:

Kitab Ushulus Sunnah, oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Tahqiq/Syarah Walid bin Muhammad Nubaih, m/s. 123. (Edisi Terjemahan: Terbitan Pustaka Darul Ilmi, Mac 2008M)

078 - (Bahagian 17) - Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Menurut Imam Ahmad

(Bahagian 17) - Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Menurut Imam Ahmad

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com

Dari imam Ahmad bin Hanbal (katanya):

Dasar ahlus sunnah menurut kami adalah,

36 - Kami tidak menentukan sama ada (masuk) syurga atau neraka bagi siapapun dari ahli kiblat (kaum muslimin) disebabkan suatu amalan yang telah dilakukannya. Kami mengharap (kebaikan) bagi orang yang soleh dan bimbang akan keburukan darinya. Kami (juga) bimbang (keburukan) akan menimpa orang yang tidak baik lagi berdosa, dan mengharapkan rahmat Allah baginya. (Imam Ahmad bin Hanbal, Ushulus Sunnah, prinsip 36)

Penjelasan/Syarah:

Iaitu kecuali bagi orang yang telah dijelaskan melalui al-Kitab atau as-Sunnah akan masuk syurga atau neraka, sebagaimana contohnya sepuluh orang sahabat yang mendapat khabar gembira masuk syurga, dan selain mereka. (Lihat di dalam at-Ta’liq ‘ala ath-Thahawiyyah, hal. 41)

Dinukil dan disunting dari:

Kitab Ushulus Sunnah, oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Tahqiq/Syarah Walid bin Muhammad Nubaih, m/s. 122. (Edisi Terjemahan: Terbitan Pustaka Darul Ilmi, Mac 2008M)

077 - (Bahagian 16) - Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Menurut Imam Ahmad

(Bahagian 16) - Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Menurut Imam Ahmad

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com

Dari imam Ahmad bin Hanbal (katanya):

Dasar ahlus sunnah menurut kami adalah,

35 - Memerangi para pencuri dan orang-orang khawarij (yang keluar dari ketaatan kepada penguasa) adalah boleh, (iaitu) apabila mereka telah merampas jiwa dan harta seseorang. Maka bagi orang tersebut boleh memerangi mereka untuk mempertahankan jiwa dan hartanya dengan segala kemampuan. Akan tetapi, dia tidak boleh mengejar dan mengikuti jejak mereka apabila mereka telah pergi dan meninggalkannya. Tidak boleh bagi sesiapa pun kecuali imam atau para pemimpin muslimin, kerana hanya dibolehkan untuk mempertahankan jiwa dan hartanya di tempat tinggalnya, dan berniat dengan sedaya upayanya untuk tidak membunuh seseorang. Jika dia (pencuri/khawarij) mati di tangannya di dalam peperangan mempertahankan dirinya, maka Allah akan menjauhkan orang yang terbunuh (dari rahmat-Nya). Dan jika dia (yang menjadi mangsa) terbunuh di dalam keadaan tersebut di mana ketika dia sedang mempertahankan jiwa dan hartanya, maka aku berharap dia mati syahid sebagaimana di dalam hadis-hadis. Dan seluruh atsar di dalam masalah ini memerintahkan agar memeranginya dan tidak memerintahkan untuk membunuh dan mengejarnya. Dan tidak boleh membunuhnya jika dia menyerah atau terluka. Dan jika dia menawannya maka tidak boleh membunuhnya dan tidak boleh melaksanakan hukuman padanya akan tetapi urusannya diserahkan kepada orang yang telah dijadikan oleh Allah sebagai pemimpin, lalu Ia menghukuminya. (Imam Ahmad bin Hanbal, Ushulus Sunnah, prinsip 35)

Penjelasan/Syarah:

“Dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Telah datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata: “Wahai Rasulullah, apa pendapatmu jika datang seseorang yang ingin mengambil hartaku?” BeIiau menjawab: “Jangan kamu berikan hartamu kepadanya.” Dia bertanya: “Apa pendapatmu jika dia memerangiku?” Beliau menjawab: “Perangilah dia.” Ia bertanya: “Apa pendapatmu jika ia membunuhku?” BeIiau menjawab: “Maka kamu mati syahid.” Ia bertanya: “Apa pendapatmu jika aku membunuhnya?” Beliau menjawab: “Dia masuk ke dalam neraka.” (Dikeluarkan oleh Muslim (hadis no. 140) dan dikeluarkan oleh penyusun buku ini (Imam Ahmad) di dalam Musnadnya (2/339))

Dan di dalam sebuah hadis disebutkan:

“Barangsiapa yang terbunuh kerana (mempertahankan) hartanya, maka dia syahid. Barangsiapa yang terbunuh kerana (mempertahankan) jiwanya maka dia syahid. Dan barangsiapa yang terbunuh kerana (mempertahankan) agamanya maka dia syahid.” (Shahih. Lihat al-Irwa’ al-Ghalil, (708))

Dan dalam hadis, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

“Apabila dua orang muslim bertelagah dengan (menghunus/menggunakan) kedua pedangnya, maka pembunuh dan yang terbunuh masuk ke dalam neraka.” Maka beliau ditanya: “Wahai Rasulullah, ini (balasan) pembunuh, maka bagaimanakah dengan yang terbunuh?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya ia (yang terbunuh) telah bersungguh-sungguh untuk membunuh saudaranya.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (31) dan Muslim (2888), keduanya dari hadis Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)

Dinukil dan disunting dari:

Kitab Ushulus Sunnah, oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Tahqiq/Syarah Walid bin Muhammad Nubaih, m/s. 119-121. (Edisi Terjemahan: Terbitan Pustaka Darul Ilmi, Mac 2008M)

Saturday, November 1, 2008

076 - (Bahagian 15) - Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Menurut Imam Ahmad

(Bahagian 15) - Prinsip-prinsip Ahlus Sunnah Menurut Imam Ahmad

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com

Dari imam Ahmad bin Hanbal (katanya):

Dasar ahlus sunnah menurut kami adalah,

33 - Barangsiapa yang keluar (dari ketaatan) terhadap seorang pemimpin dan para pemimpin kaum muslimin, padahal manusia telah bersatu dan mengakui kepimpinan baginya dengan cara apapun, sama ada dengan redha atau dengan kemenangan (dalam perperangan), maka sesungguhnya orang tersebut telah memecah-belah kesatuan kaum musilmin dan menyelisihi pesanan-pesanan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan apabila ia mati dalam keĆ”daan demikian maka matinya seperti mati jahiliyah.

34 - Tidak halal memerangi penguasa (pemerintah) dan keluar dari ketaatan kepadanya disebabkan sesuatu yang perkara. Barangsiapa yang melakukan hal yang seperti itu maka dia adalah seorang mubtadi’ (pelaku bid’ah) yang bukan di atas Sunnah dan jalan (yang lurus). (Imam Ahmad bin Hanbal, Ushulus Sunnah, prinsip 33 & 34)

Penjelasan/Syarah:

Persoalan wajibnya taat di dalam kesatuan kaum muslimin bersama pemimpinnya adalah berdasarkan hadis berikut:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang melihat sesuatu yang dia benci pada pemimpinnya, maka hendaklah dia bersabar atas sebab tersebut. Kerana barangsiapa yang meninggalkan jamaah (kesatuan) muslimin kemudian dia mati, maka matinya adalah seperti mati jahiliyah.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (hadis no. 7054) dan Muslim (hadis no. 1849). Kedua-duanya dari hadis lbnu Abbas radhiyallahu ‘anhu)

Hanbal bin Ishaq berkata:

“Di dalam pemerintahan al-Watsiq, para ahli fiqh berkumpul pada Abu Abdillah (imam Ahmad) maka mereka berkata: “Wahai Abu Abdillah, perkara ini telah menjadi besar dan tersebar, iaitu munculnya pendapat bahawa al-Qur’an itu makhluk dan selainnya”. Maka Abu Abdillah berkata kepada mereka: “Apakah yang kamu inginkan?” Mereka menjawab: “Kami ingin bermusyawarah denganmu bahawa kami tidak redha dengan kepemimpinan dan kekuasaannya”. Maka Abu Abdillah berhujjah dengan mereka untuk seketika dan berkata kepada mereka: “Wajib bagi kamu untuk mengingkarinya di dalam hati-hati kamu, jangan melepaskan ketaatan, jangan memecah-belah kesatuan kaum muslimin, jangan menumpahkan darah-darah kamu dan darah-darah kaum muslimin bersama kamu. Lihatlah (fikirkan) akibat perbuatan kamu nanti dan bersabarlah sehingga orang yang baik beristirehat atau diistirehatkan dari yang jahat”. Setelah itu mereka pun bersurai. Kemudian aku dan bapakku menemui Abu Abdillah setelah mereka pergi. Lalu bapa-ku berkata kepada Abu Abdillah, “Kami memohon kepada Allah keselamatan bagi kami dan umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Dan aku tidak suka bagi siapapun melakukan perkara tersebut”. Dan bapa-ku berkata, “Wahai Abu Abdillah, apakah perkara ini menurutmu benar?” Beliau menjawab, “Tidak benar, perkara ini bertentangan dengan atsar-atsar yang mana kita diperintahkan supaya bersabar di dalamnya”. (AI-Masa’iI wa ar-Rasa’il aI-Marwiyyah ‘an Ahmad fii Aqiidah (2/4))

Adalah suatu yang tidak halal memeranginya dan keluar dari ketaatan kepadanya kecuali jika nampak (dilihat) padanya kekufuran yang nyata (setelah hujjah yang jelas ditegakkan mengikut kaedahnya). Maka wajib bagi Ahill Halli wal ‘Aqdi untuk mencabut ketaatan dan mengangkat pemimpin yang lebih baik. Akan tetapi, mestilah dengan syarat memiliki kemampuan dan tidak menimbulkan kerosakan yang lebih besar dan fitnah yang lebih banyak.

Imam lbnu Abil ‘Izzi al-Hanafi berkata: “Ada pun perintah meletakkan kesetiaan di atas ketaatan kepada mereka (para penguasa) walaupun mereka melakukan kezaliman adalah kerana perbuatan keluar dari ketaatan kepada mereka akan menimbulkan kerosakan-kerosakan yang berlipat kali ganda berbanding dengan kezaliman yang telah mereka lakukan. Bahkan bersabar terhadap kezaliman mereka akan menghapuskan keburukan-keburukan dan akan melipat gandakan pahala. Kerana Allah tidaklah memberikan kekuasaan kepada mereka melainkan disebabkan perbuatan-perbuatan kita yang mengarahkan kepada keburukan, sedangkan balasan itu akan sentiasa bersesuaian dengan jenis sesuatu perbuatan. Maka wajib bagi kita untuk bersungguh-sungguh di dalam beristighfar dan taubat serta memperbaiki amalan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (maksudnya):

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tan ganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dan sebagian kesalahan-kesalahanmu).” (asy-Syuura, 42: 30)

Dan firman Allah (maksudnya),

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badr) kamu berkata: “Dan mengapakah terjadinya (kekalahan) ini?” katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”.” (Ali ‘lmran, 3: 165)

Dan firman-Nya pula:

“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (al-An’aam, 6: 129)

Syeikh al-‘Allamah al-Albani berkata: “Aku berkata, “Di dalam hal ini terdapat penjelasan tentang jalan kebebasan dan kezaliman para penguasa yang mana mereka itu dari keturunan kita dan berbicara dengan bahasa kita. Iaitu, hendaklah kaum muslimin bertaubat kepada Rabb mereka dan memperbaiki aqidah mereka dan mendidik diri-diri mereka dan keluarga mereka di atas Islam yang benar di dalam rangka mewujudkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (ar-Ra’d, 13: 11)

Abul Harits ash-Shaaigh berkata: “Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah berkaitan suatu perkara yang terjadi di Baghdad, dan suatu kaum yang berhasrat untuk keluar (dari ketaatan kepada penguasa). Maka aku katakan, “Wahai Abu Abdillah apa yang kamu katakan tentang keluar bersama mereka?” Maka Ia mengingkari perkara tersebut dari mereka lalu mengatakan:

“Maha Suci Allah, jagalah darah-darah, jagalah darah-darah. Aku tidak berpendapat demikian dan aku tidak memerintahkannya. Bersabar di atas keadaan yang kita berada padanya itu lebih baik daripada fitnah yang akan ditumpahkannya darah-darah dan dihalalkannya harta-harta serta dilanggarnya keharaman-keharaman. Tidakkah kamu mengetahui suatu keadaan yang manusia berada di dalamnya, iaitu zaman fitnah”. Maka aku katakan: “Dan di zaman ini bukankah manusia berada di dalam fitnah, wahai Abu Abdillah?” maka beliau menjawab: “Walaupun hakikatnya begitu, akan tetapi itu adalah fitnah bagi orang-orang yang khusus (tertentu). Apabila terjadi pengangkatan pedang maka fitnah akan merata dan jalan-jalan akan terputus. Bersabar di atas keadaan demikian dengan keselamatan agamamu itu lebih baik bagi dirimu”. Dan aku melihatnya (Abu AbdilIah) mengingkari keluar dari ketaatan kepada para pemimpin dan beliau mengatakan: “Jagalah darah-darah. Aku tidak berpendapat demikian (bolehnya keluar dari ketaatan terhadap pemimpin) dan aku tidak memerintahkannya”.” (Al-Masaa’il al-Marwiyyah ‘an Ahmad fii ‘Aqiidah (2/4). Lihat At-Ta’liq ‘ala ath-Thahaawiyyah hal. 47)

Dinukil dan disunting dari:

Kitab Ushulus Sunnah, oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Tahqiq/Syarah Walid bin Muhammad Nubaih, m/s. 113-117. (Edisi Terjemahan: Terbitan Pustaka Darul Ilmi, Mac 2008M)

Wednesday, October 29, 2008

075 - Syarat-Syarat Asas Agar Amalan Kita Diterima Di Sisi Allah

Syarat-Syarat Asas Agar Amalan Kita Diterima Di Sisi Allah

http://aqidah-wa-manhaj.blogspot.com

1 - Berakidah Dengan Akidah Yang Sahih:

“Sesiapa yang beramal soleh, sama ada dari lelaki atau perempuan, dan ia sentiasa di dalam keadaan yang beriman (berakidah dengan akidah yang sahih), maka sesungguhnya Kami akan menghidupkan dia dengan kehidupan yang baik; dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka dengan memberikan pahala yang lebih dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Surah an-Nahl, 16: 97)

“Dan barang siapa yang mengerjakan amal soleh, dari lelaki atau perempuan, dan ia sentiasa berada di dalam keadaan yang beriman (berakidah sahih), maka mereka itu akan masuk syurga, dan mereka pula tidak akan dianiaya (atau dikurangkan balasannya) sedikitpun.” (Surah an-Nisa’, 4: 124)

2 - Ikhlas Lillahi Ta’ala (tidak syirik):

“Sesungguhnya Kami menurunkan al-Quran ini kepadamu (Wahai Muhammad) dengan membawa kebenaran; oleh itu hendaklah engkau menyembah Allah dengan mengikhlaskan segala ibadat dan bawaanmu kepada-Nya. Ingatlah! (hak yang wajib dipersembahkan) kepada Allah ialah segala ibadat dan bawaan yang suci bersih (dari segala bentuk kesyirikan).” (Surah az-Zumar, 39: 2)

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu (Wahai Muhammad) dan kepada Nabi-nabi yang terdahulu daripadamu: “Demi sesungguhnya! Jika Engkau (dan pengikut-pengikutmu) mempersekutukan (sesuatu yang lain dengan Allah) sudah pasti segala amal-amalmu akan terhapus, dan engkau akan tetap menjadi orang-orang yang rugi.” (Surah az-Zumar, 39: 65)

“Barangsiapa yang percaya dan berharap terhadap pertemuan dengan Tuhannya, hendaklah ia mengerjakan amal yang soleh dan janganlah ia mempersekutukan dengan apa pun dalam ibadatnya kepada Tuhannya.” (Surah al-Kahfi, 18: 110)

“Dan sekiranya mereka berbuat syirik nescaya gugurlah dari mereka apa yang mereka telah lakukan (dari amal-amal yang baik).” (Surah al-An’am, 6: 88)

3 - Beramal Dengan Petunjuk al-Qur'an Dan Sunnah Rasul-Nya (bersumberkan hadis-hadis yang sah):

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, nescaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Ali Imran, 3: 31)

“Kemudian jika datang kepada kamu petunjuk dari-Ku, maka sesiapa yang mengikut petunjuk-Ku itu nescaya ia tidak akan sesat dan ia pula tidak akan menderita azab sengsara.” (Surah Thoha, 20: 123)

“Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri Rasulullah itu contoh ikutan yang baik, iaitu bagi orang yang sentiasa mengharapkan (keredhaan) Allah dan (balasan baik) di hari akhirat, serta ia pula menyebut dan mengingati Allah sebanyak-banyaknya (sama ada di waktu susah mahu pun senang).” (Surah al-Ahzaab, 33: 21)

Sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.” (Hadis Riwayat Muslim, no: 2003)

4 - Haram Menokok Tambah (Mereka-Cipta) Amalan-Amalan Yang Baru Di Dalam Agama:


“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memandai-mandai (melakukan sesuatu perkara) sebelum (mendapat hukum atau kebenaran) Allah dan Rasul-Nya; dan bertaqwalah kamu kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, lagi Maha mengetahui.” (Surah al-Hujurat, 49: 01)

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku redhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (Surah al-Ma’idah, 5: 3)

“Barangsiapa yang beramal dengan amalan selain dari cara kita (Rasulullah bersama para sahabat-sahabatnya), maka ianya tertolak.” (Hadis Riwayat Muslim, no: 4468)

“Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru di dalam urusan agama, maka ianya tertolak.” (Hadis Riwayat al-Bukhari, no: 2697)

Hendaklah kamu menjauhi setiap perkara yang baru yang diada-adakan di dalam urusan agama kerana setiap perkara yang baru di dalam agama itu adalah menyesatkan.” (Hadis Riwayat Ibnu Majah, 1/31, no: 40)

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Setiap perkara yang baru yang diada-adakan di dalam agama adalah kesesatan walaupun manusia memandangnya baik (hasanah).” (Atsar Riwayat al-Baihaqi, no: 191. al-Laalikaa’i, Syarah Ushul I’tiqad, 1/104, no: 126)

5 - Janji Allah Untuk Mereka Yang Sentiasa Beristiqomah Dengan Aqidah Yang Benar, Tidak Syirik, Ikhlas, dan Sentiasa Menjaga Kesahihan Amal-amalannya:

“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman (tidak berbuat syirik yang murni akidahnya) dan beramal soleh dari kalangan kamu bahawa Dia (Allah) akan menjadikan mereka berkuasa memegang kekuasaan di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka: yang berkuasa; dan Dia akan menguatkan dan mengembangkan agama mereka (agama Islam) yang telah diredhai-Nya untuk mereka; dan ia juga akan menggantikan bagi mereka keamanan setelah mereka mengalami ketakutan (dari ancaman musuh). mereka terus beribadat kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu yang lain dengan-Ku. Dan (ingatlah) sesiapa yang kufur ingkar sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang derhaka (fasiq).” (Surah an-Nuur, 24: 55)

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman (menjaga aqidahnya) dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (Surah al-A’raaf, 7: 96)

“Sesiapa yang beramal soleh, sama ada dari lelaki atau perempuan, dan ia sentiasa di dalam keadaan yang beriman (berakidah dengan akidah yang sahih), maka sesungguhnya Kami akan menghidupkan dia dengan kehidupan yang baik; dan sesungguhnya Kami akan membalas mereka dengan memberikan pahala yang lebih dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Surah an-Nahl, 16: 97)

“Dan barang siapa yang mengerjakan amal soleh, dari lelaki atau perempuan, dan ia sentiasa berada di dalam keadaan yang beriman (berakidah sahih), maka mereka itu akan masuk syurga, dan mereka pula tidak akan dianiaya (atau dikurangkan balasannya) sedikitpun.” (Surah an-Nisa’, 4: 124)